Pertumbuhan IKM Tulungagung Capai 70 Persen

Batik,  salah satu produk IKM Tulungagung (foto: Joko Pramono/ Jatimtimes)
Batik, salah satu produk IKM Tulungagung (foto: Joko Pramono/ Jatimtimes)

SAMPANGTIMES, TULUNGAGUNG – Pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) di Kabupaten Tulungagung meningkat drastis. Dari data yang dimiliki oleh Disperindag Kabupaten Tulungagung, saat ini ada sekitar 590 pengusaha yang tergabung dalam Forum IKM Tulungagung (FIT).  "Jumlah IKM yang kita bina meningkat 70 persen," ujar Kepala Disperindag Kabupaten Tulungagung, Eko Sugiono, kemarin (5/3/19) dalam HUT Dekranasda ke 39.

Eko melanjutkan, pembinaan pada pelaku IKM Tulungagung terus dilakukan. Seperti packaging atau pengemasan yang baik dan menarik, bagaimana cara menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai standar. "Terus kita lakukan, dalam teknik packaging juga pameran-pameran di tingkat daerah hingga nasional," tandas Eko Sugiono. 

Sementara itu ketua FIT,  Eni Murnawati jelaskan syarat untuk menjadi anggota FIT. Syarat utama yang harus dipenuhi ialah mempunyai produk IKM dan mempunyai perijinan yang lengkap. "Harus punya produk dan ijinya lengkap," ujar wanita berjilbab itu.

Dari sekitar 590 anggotanya semua sudah melengkapi diri dengan PIRT. Namun belum seluruh produk IKM belum dipatenkan. "Baru sekitar 75 persen yang dipatenkan, yang lain masih dalam proses, " tuturnya lebih lanjut. 

Pihaknya mengeluhkan banyaknya produk IKM yang sejenis. tentu hal ini mempersulit promosi dan perijinan produk itu. "Contohnya produk sukun, yang punya produk bukan hanya 1 orang, kita promosi ternyata ada yang lebih murah," katanya.

Untuk penjualan produk IKM di Tulungagung , sudah dilakukan secara manual dan situs jual beli online. Baru 60 persen pelaku IKM Tulungagung yang menjual secara online. "Kan tidak semua ngerti IT ya, jadi kadang yang jual (online) anak-anaknya," terang Eni. 

Disinggung masalah modal yang harus dimiliki untuk bergabung dengan FIT, pihaknya tak mempermasalahkan besarnya modal yang dimiliki oleh anggota. "Itu relatif, yang penting punya produk," Tegas Eni. 

Dirinya mencontohkan, untuk membuat sebuah produk tak harus dengan modal yang besar. Produk kacang kemasan misalnya, pelaku IKM bisa membeli dalam jumlah kecil dan diolah untuk dijual lagi.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sampangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sampangtimes.com | marketing[at]sampangtimes.com
Top