Kemanusiaan dalam Sekantong Darah, Umat Non Muslim di Malang Pilih Donor Saat Ramadan

Sejumlah pendonor tengah melakukan pengambilan darah di UTD PMI Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Sejumlah pendonor tengah melakukan pengambilan darah di UTD PMI Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

SAMPANGTIMES, MALANG – Kota Malang menjadi salah satu kota yang sejak lawas menjunjung tinggi toleransi, termasuk dalam kehidupan sehari-hari warganya. Seperti yang tercermin dalam aktivitas donor darah selama Ramadan di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Malang. 

Hampir setiap tahun, jumlah pendonor di bulan Ramadan mengalami penurunan. Selain karena faktor puasa, sejumlah pendaftar harus ditolak karena kadar hemoglobin (Hb) rendah akibat kurang istirahat. Padahal, jumlah kebutuhan darah yang mesti disalurkan tetap banyak tak peduli Ramadan atau bukan. 

Namun di Malang, banyak dari warga non muslim, baik dari umat Kristen, Protestan, Hindu, Budha, maupun Kong Hu Chu yang memilih melakukan donor darah di bulan puasa. Seperti saat Malangtimes.com mengunjungi UTD PMI Kota Malang pada Selasa (14/5/2019) siang. Meski tak seramai hari normal, beberapa pendonor tampak tengah melakukan pengambilan darah. 

Salah satu pendonor non muslim, Dani Titis Hermawan mengaku menyempatkan diri donor darah di bulan puasa. "Sebenarnya memang saya rutin setiap tiga bulan sekali. Harusnya awal bulan lalu mendonor, tetapi saya sempatkan sekarang," ujar Dani. 

Pria yang telah 82 kali menyumbangkan darahnya itu mengaku rutin berdonor karena kemanusiaan. Dia juga mendapatkan informasi soal turunnya jumlah pendonor selama bulan puasa. "Sejak SMA dulu rutin donor, karena pernah pengalaman mencarikan darah transfusi untuk ibu saya. Jadi lebih pada alasan kemanusiaan," tutur warga Sawojajar II, Malang itu. 

Pendonor lain, Andayani mengaku donor darah merupakan bentuk sedekah yang bisa dilakukan dengan mudah. Perempuan berjilbab itu mengaku tidak masalah meskipun tengah berpuasa. "Saya tadi merasa tubuh saya fit, makanya ke sini. Saat dites darah, hasilnya normal, jadi tetap bisa donor," ujarnya. 

Selama bulan Ramadan, PMI Kota Malang juga memberikan apresiasi khusus bagi pendonor. Yakni berupa bingkisan beras sebanyak 5 kilogram. Meski demikian, Andayani menyebut bingkisan tersebut bukan motivasi menyumbang darah. "Saya malah baru tahu kalau dapat bingkisan, ini ya sebagai bonus. Kan donor darah ini sedekah, ikhlas, kita juga dapat bonus badan sehat," sebutnya. 

Kepala UTD PMI Kota Malang dr Enny Sekar Rengganingati mengakui adannya penurunan jumlah pendonor saat Ramadan. "Kebutuhan darah di sini rata-rata sehari sekitar 100 kantong, jadi minimal kan dapat 70-an pendonor. Awal puasa yang datang sekitar 50 orang, tapi banyak yang ditunda karena kurang tidur jadi yang donor hanya 41 orang. Tapi pas minggu kedua ini mulai naik, total bisa masuk 81 pendonor," ujarnya. 

Selama Ramadan, lanjut Enny, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menggelar jemput bola donor darah. "Kerja sama dengan masjid untuk menjaring jamaah yang habis tarawih. Juga TNI, gereja hingga vihara. Bus donor juga kami tempatkan di tempat pusat keramaian saat malam," tuturnya. 

Menurutnya, pihak gereja juga selalu menyambut baik kegiatan donor darah. Misalnya untuk pekan ini, pada 19 Mei mendatang ada tiga lokasi langsung yang menggelar donor darah yakni GKI Bromo, Gereja Juanda, dan GKJW Kedungkandang. "Gereja mengadakan kegiatan kemanusiaan juga. Justru mereka yang minta, itu mencerminkan tingginya kepedulian mereka yang mau membantu," pungkasnya.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sampangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sampangtimes.com | marketing[at]sampangtimes.com
Top