Mudik Aman, Catat Lokasi Black Spot dan Jalur Macet di Kabupaten Malang

Mudik Lebaran yang kerap menimbulkan penumpukan kendaraan di jalan. raya (Ist)
Mudik Lebaran yang kerap menimbulkan penumpukan kendaraan di jalan. raya (Ist)

SAMPANGTIMES, MALANG – Tinggal hitungan hari, peristiwa tahunan paling akbar bagi umat Islam Indonesia datang. Yaitu mudik Lebaran yang akan kembali membuat jalanan dipadati berbagai jenis kendaraan, pribadi maupun angkutan umum.

Walau sebagai acara tahunan, pemerintah tetap mempersiapkan berbagai langkah dalam menghadapi mudik Lebaran itu. Baik arus mudik dan arus balik lebaran. Tak terkecuali di Kabupaten Malang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) sebagai leading sector penanganan lalu lintas. Selain tentunya pihak kepolisian.

Terkait beberapa langkah dalam mewujudkan mudik aman, lancar dan tertib, jauh hari Dishub Kabupaten Malang telah melakukan pemetaan jalan raya. Pemetaan tersebut difokuskan pada jalur-jalur rawan kecelakaan atau disebut black spot dan jalur rawan kemacetan. Walau, persoalan jalur rawan kemacetan diprediksi mengalami penurunan di jalur-jalur arteri dikarenakan beroperasinya jalan tol Malang-Pandaan (Mapan).

"Dimungkinkan adanya penurunan volume kendaraan yang melintas di jalan arteri antara 65 persen sampai 70 persen karena adanya tol Mapan. Tapi tentunya bukan berarti hal ini membuat kita mengendorkan pengamatan di jalan arteri," kata Hafi Lutfi, kepala Dishub Kabupaten Malang.

Potensi kerawanan macet dan kecelakaan tidak bisa dipastikan dengan adanya jalan tol Mapan. Karena itu, Dishub Kabupaten Malang sejak jauh hari telah memetakan beberapa jalur black spot dan titik kemacetan.

Dari data Dishub Kabupaten Malang, ada empat jalur black spot yang patut diperhatikan para pemudik Lebaran. Yakni,  jalan yang berada di sepanjang jalur Singosari– Lawang (Malang Utara), Pakisaji– Kepanjen, Sumberpucung – Gondanglegi, dan arah menuju Malang Selatan.

Empat jalur black spot itu kerap menjadi jalur rawan kecelakaan dikarenakan pengendara memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dikarenakan merasa jalanan lengang atau sepi.
"Karena itu disebut black spot. Pengendara kerap lalai saat berada di jalanan yang dianggap sepi sehingga memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kami imbau nanti para pemudik untuk tetap waspada di jalur black spot itu," ujar Lutfi.

Sedangkan pemetaan jalur jalan rawan kemacetan dikarenakan adanya penumpukan kendaraan. Lutfi mencatat beberapa jalan arteri dan jaringannya yang dari pemetaan Dishub diprediksi mengalami kemacetan. Yakni di  jalan menuju arah Kecamatan Pakis, Tumpang, Poncokusumo serta jalur menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

"Kami petakan jalur rawan macet ada di lokasi tersebut. Apalagi Lebaran biasanya juga dipergunakan untuk liburan bagi masyarakat. Jalur tersebut termasuk jalur wisata sekaligus memang jalur padat," ucap mantan kepala BPBD Kabupaten Malang itu.

Disinggung antisipasi di jalur black spot dan jalur rawan kemacetan, Lutfi menyatakan bersiap untuk mengerahkan petugasnya secara maksimal. Selain juga terus berkoordinasi dengan pihak Polri dan TNI dalam pembagian tugas pemantauan dan penjagaan berbagai pos di wilayah Kabupaten Malang di saat mudik tiba.

Selain hal tersebut, Dishub Kabupaten Malang juga mengatakan teemrus memetakan juga jalur-jalur alternatif dalam menghadapi arus mudik dan balik lebaran. "Kami juga fokus pemetaan jalur alternatif. Ini akan cukup mengurai kemacetan di beberapa wilayah. Petugas kami terus melakukan hal itu sampai saat ini," ucap Nandang Djumantara, sekretaris Dishub Kabupaten Malang, kepada MalangTIMES. 

Tahun 2018, jalur alternatif di wilayah Kabupaten Malang terbagi dalam tujuh jalur. Yakni Lawang-Purwosari (24,6 kilometer) melalui jalan masuk (Patal Lawang Desa Bedali-Simpang 3 Indrokilo Lagros-Pemandian Sumber Polaman-Desa Ketindan) dan keluar lewat jalan Desa Tejowangi-jalan Pegadaian Purwosari) dengan perkiraan waktu tempuh 63 menit.

Titik alternatif lainnya adalah menghindari jalur padat di Pasar Lawang sepanjang 4,7 kilometer melalui jalan masuk Jalan Indrokilo/Patal/LA Gross Desa Bedali-Pemandian Polaman Kelurahan Kalirejo-Jalan Argopuro-Jalan Ketawangargo-Jalan Mongisidi-Jalan Mayor Abdullah-Jalan Sumbersuko-Jalan Ketindan-Jembatan Baru Ketindan Sentong-Jalan Anjasmoro Desa Turirejo) dan jalan keluar Simpang tiga depan Denpom Lawang dengan waktu tempuh 15 menit.

Jalur lainnya adalah jalur Lawang-Singosari sepanjang 15 kilometer dengan pintu masuk mulai Jalan Sumber Wuni/Jalan Sumber Waras-Jalan Inspol Suwoto) dengan jalan keluar Simpang empat Dengkol-Simpang tiga Garuda Singosari/Simpang 3 Karanglo dan waktu tempuh 27 menit.

Sementara juga ada jalur Pasar Karangploso-Lawang (27,8 kilometer) mulai dari Pasar Karangploso-Desa Bocek-Desa Kelampok-Kelurahan Lawang-Desa Ketindan Sentong dan keluar di Simpang tiga depan pasar Singosari. Waktu tempuh sekitar 73 menit.

 Jalur alternatif kelima adalah Kepuharjo Karangploso/ITN 2/Hotel Faris-Singosari (9,5 kilometer) melalui Jalan simpang empat Desa Kepuharjo/ITN 2/Hotel Faris-Desa Langlang-Desa Kelampok-Jalan Tumapel Singosari) dan keluar di Simpang tiga depan Pasar Singosari dengan waktu tempuh 28 menit.

Sementara itu jalur lainnya adalah Malang-Kepanjen (15,6 kilometer masuk lewat Jalan simpang empat Gadang-Desa Kendalpayak-simpang tiga Karangduren dan keluar di Simpang tiga Panarukan-simpang empat PLN Kepanjen dengan waktu tempuh 28 menit. Terakhir jalur Kepanjen-Sumberpucung (5,7 kilometer) dengan jalan masuk lewat Jalan Desa Pepen-simpang tiga Jalibar dan keluar di Simpang empat Talangagung Kepanjen dengan waktu tempuh 8 menit. "Saya pikir untuk jalur alternatif masih sama dengan tahun lalu," pungkas Nandang.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sampangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sampangtimes.com | marketing[at]sampangtimes.com
Top