Polemik Mutasi Direktur RSUD Kanjuruhan (7)

Tampik Disebut Boikot Kebijakan Mutasi, Karyawan RSUD Kanjuruhan : Kita Hanya Mohon Biarkan Direktur Lama Selesaikan Program

Kunjungan Dewas RS dimanfaatkan untuk sharing persoalan mutasi oleh karyawan RSUD Kanjuruhan (Nana)
Kunjungan Dewas RS dimanfaatkan untuk sharing persoalan mutasi oleh karyawan RSUD Kanjuruhan (Nana)

SAMPANGTIMES, MALANG – Karyawan RSUD Kanjuruhan Kepanjen secara khusus akhirnya menyampaikan alasan adanya petisi untuk mempertahankan direktur lamanya (Marhendrajaya) yang diganti oleh Abdurachman melalui mutasi dan rotasi pejabat di akhir Mei 2019 lalu.

Melalui salah satu perwakilan karyawan, alasan petisi bukan ditujukan dalam upaya memboikot kebijakan Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi.

Apalagi bermaksud menentang dan tidak loyal atas keputusan pimpinan daerah.

"Ini perlu kita tegaskan karena kita dianggap melakukan boikot terkait itu. Kita paham pergantian pimpinan bukan wewenang kita. Isu terkait kita mogok memberikan pelayanan juga tidak benar," kata dr Johan Bastian perwakilan karyawan RSUD Kanjuruhan Kepanjen, Rabu (12/06/2019) kepada MalangTIMES.

Pernyataan tersebut selain untuk meluruskan kabar kepada masyarakat juga agar bisa dijadikan bahan untuk menindaklanjuti polemik yang semakin berkembang terkait pergantian posisi Direktur RSUD Kanjuruhan yang saat ini sedang giat-giatnya mengembalikan citra baik pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Johan mengatakan, alasan adanya petisi didorong saat ini RSUD Kanjuruhan sedang terus melakukan berbagai pembangunan. Baik secara infrastruktur maupun untuk meraih akreditasi bertaraf Internasional. 

"Jadi alasannya kita memohon Pak Marhendrajaya dipertahankan agar beliau bisa menyelesaikan berbagai program yang sudah berjalan ini. Karena seluruh planning dari beliau serta lewat beliau RSUD bangkit lagi," urainya.

Permohonan agar Marhendrajaya dipertahankan juga agar ada kepastian bahwa seluruh proses pembangunan yang sudah jelas selama 1 tahun ke depan, benar-benar terkawal dan tidak terhenti.

"Jadi intinya seperti itu. Jadi kalau kita dianggap tidak patuh, tidak loyal pimpinan apalagi sampai mogok kerja itu tidak benar," tegas Johan.

Disinggung terkait akan adanya kunjungan dari Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malang, Nurman Ramdansyah, untuk memberikan pemahaman serta dimungkinkan adanya peringatan dan bisa saja sanksi kepada karyawan RSUD Kanjuruhan Johan tidak berkomentar panjang.

Tapi, kata dokter ortopedi sekaligus Kepala Kamar Operasi RSUD Kanjuruhan ini, dirinya serta karyawan hanya berharap dan menginginkan yang terbaik bagi rumah sakit plat merah yang sempat terjun bebas selama 8 tahun lalu serta baru saja bangkit sekitar 8 sampai 9 bulan di bawah kepemimpinan Marhendrajaya.

"Kita ini bekerja bukan untuk mencari uang di sini. Tapi, tepatnya bekerja 'padamu negeri'. Jadi bila ditekan-tekan saya pikir bisa lari para dokter," ujarnya yang menyatakan bahwa hampir 8 tahun para dokter bertahan mengabdikan diri di RSUD Kanjuruhan bukan karena motif mencari uang.

"Jadi kita tidak menolak itu. Kita hanya takut apa yang selama ini kita perjuangkan sampai saat ini sudah mulai terlihat hasilnya harus terhenti. Harapan kami agar bapak (Marhendrajaya) bisa selesaikan itu," ucapnya.

Sosok Marhendrajaya yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur RSUD Lawang, menurut beberapa karyawan RSUD Kanjuruhan dinilai mampu. Baik membangkitkan kerjasama seluruh karyawan sampai pada merubah nasib RSUD Kanjuruhan yang sempat terpuruk bertahun-tahun lamanya.

Lewat tangan dinginnya, wajah RSUD Kanjuruhan terus berubah ke arah yang lebih baik. 

Akreditasi paripurna disabetnya dan kini sesuai dengan perencanaan ke depan, RSUD Kanjuruhan siap untuk mendapatkan akreditasi Internasional.

Pendirian RS Pendidikan pun terus disiapkan dan rencananya visitasinya akan dilakukan Juli 2019 datang.

Selain beberapa pembangunan infrastruktur lainnya. 

Seperti yang disampaikan Johan yaitu kamar operasi taraf Internasional yang sudah mulai tahap 1.

"Jadi sekali lagi ini alasan kita. Secara kinerja kami nilai Bapak (Marhendrajaya) telah teruji selama 8 bulan. Tapi masih ada beberapa program yang belum selesai dan ini butuh beliau," pungkas Johan.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sampangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sampangtimes.com | marketing[at]sampangtimes.com
Top